Peran Lembaga dan Mahasiswa dalam Kegiatan di Kampus STKS Bandung

PUBLICATION

SCIENTIFIC SOCIAL WORK DISCUSSION

“Peran Lembaga dan Mahasiswa dalam Kegiatan di Kampus STKS Bandung”

SSWD Edisi #018, Tahun #IV 03 Februari 2014

Pic 1Alhamdulillahirobbilalamin, SSWD kembali melakukan diskusi setelah sempat vakum dikarenakan kesibukan para mahasiswa yang begitu padat. Sebagian besar mahasiswa STKS merupakan mahasiswa yang kompeten dan aktif dalam berbagai hal yang bermanfaat dari berbagai sisi termasuk dalam kemajuan kampus STKS.Seiring dengan berjalannya waktu, sebagian mahasiswa STKS semakin kreatif dalam menjalankan peranannya, salah satunya adalah dengan mengadakan kegiatan seminar atau workshop yang dihadiri oleh para mahasiswa dan dengan mengundang pemateri-pemateri yang cukup berkompeten di bidangnya.

Salah satu kegiatan yang telah dilakukan oleh Komunitas Mahasiswa Terapi (KOMITE) di STKS, dimana seluruh anggotanya saat ini adalah mahasiswa STKS Bandung. Komunitas ini mengadakan sebuah acara yang dinamakan MOTTO SCAN dengan peserta kegiatan adalah seluruh SMA/SMK se-kota Bandung. Kegiatan ini merupakan suatu hal yang positif yang dilakukan oleh para mahasiswa dimana selain memberikan motivasi kepada para siswa kegiatan ini juga dapat mengangkat citra STKS di mata publik. Kegiatan ini juga sekaligus dapat mengenalkan STKS kepada para siswa SMA/SMK se-kota Bandung. Kegiatan-kegiatan seperti ini perlu diadakan untuk merespon peran mahasiswa dalam meningkatkan kreatifitasnya. Namun sangat disayangkan sulitnya birokrasi dalam mengurus perijinan di STKS, dimana beberapa alasan lembaga yang mempersulit perijinan bahwa acara yang diadakan mahasiswa bukan berasal dari UKM (ujar Fadly Yulianto), Sehingga solusi yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa adalah menjalin relasi dengan para petinggi STKS Bandung seperti Pembantu Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Organisasi sampai kepada Ketua STKS.

Tidak hanya kegiatan tersebut. Banyaknya kegiatan mahasiswa yang memerlukan dukungan dan fasilitas lembaga terlihat seolah-olah sangat mendapatkan respon yang positif sebab beberapa kegiatan terlaksana dengan baik namun di dalam pengurusan perizinannya sangatlah sulit. Seperti kegiatan yang dilakukan mahasiswa angkatan 2011 yang mengundang pembicara seperti Bapak Edi Suharto, Ph.D dan Prof. Adi Fahrudin, dikatakan oleh pantia pelaksananya Ardi Pradipta bahwa sulitnya melaksanakan kegiatan workshop di kampus dikarenakan peminjaman fasilitas kampus hanya diperbolehkan oleh UKM saja dan keraguan lembaga terhadap kegiatan mahasiswa ini dari segi pembiayaan pematerinya.

Pic 2Selain dari permasalahan system perijinan kegiatan di STKS, terdapat pula kendala yang berada di ruang lingkup mahasiswa itu sendiri. Kendala tersebut dapat menghambat kemajuan dan perkembangan kualitasnya dalam menjalankan fungsi dan perannya secara aktif. Kesempatan atau peluang untuk menjadi pribadi yang sukses dan bermanfaat telah terbuka lebar dengan adanya UKM-UKM kampus serta komunitas-komunitas mahasiswa yang terorganisir dengan baik. Akan tetapi UKM dan Komunitas ini tidak dapat berjalan dengan baik jika tidak mempunyai segelintir orang yang minat dan konsisten dalam menjalankannya. Apakah sistem atau teknik dalam UKM dan komunitas yang terkait kurang eksis dan membosankan? Ataukah mahasiswanya yang memang malu atau tidak mau ikut dalam organisasi kampus?

Mungkin ketika merekrut anggota baru dalam UKM atau sebuah komunitas, orang-orang yang baru harus diberikan pemahaman dan peluang yang baik salah satunya dengan merangkul satu per satu dari mereka agar merasa dianggap dalam sebuah organisasi hingga tumbuh suatu konsistensi dalam dirinya untuk memajukan UKM dan komunitas tersebut (ujar Lutfiana Nur Azizah). Bahkan kalau perlu mengundang mahasiswa yang dianggap sepemikiran dan ingin aktif secara resmi melalui surat dimana isi surat tersebut tercantum nama mahasiswa yang akan dituju agar mahasiswa STKS yang terkait merasa dihargai dan dianggap penting keberadaannya dalam sebuah organisasi yang akan membentuk mereka menjadi pribadi yang sukses (ujar Abd. Muhni Salam). Fadly Yulianto pun menegaskan bahwa ketika seseorang ingin sukses, seseorang tersebut harus keluar dari zona nyamannya karena hal ini dapat membentuk seseorang untuk mandiri dan menjadi seseorang yang berkualitas dan bermanfaat dalam kehidupan.

Peserta SSWD #018: Fadly Yulianto (’10), Lutfiana Nur Azizah (’10), Dyah Ayu (’11), Ardy Pradipta (’11), Abd. Muhni Salam (Alumni).

Kami menunggu Partisipasimu Kawan. . . .!!!!

NB: Scientific Social Work Discussion (SSWD) is an open discussion group for STKS’s students that has 2 focuses: 1)Science Development of Social Work and 2)Social Phenomenon Response. Will be held every Thursday afternoon from 4.00pm until 5.45pm.

Categories: Social Phenomenon Response | Tags: , , , , , | 1 Comment

Sharing Tentang Metode atau Teknik dalam Praktikum III Mahasiswa STKS Bandung

P U B L I C A T I O N

SCIENTIFIC SOCIAL WORK DISCUSSION

“Sharing Tentang Metode atau Teknik dalam Praktikum III Mahasiswa STKS Bandung”

SSWD Edisi #017, Tahun #III 02 Mei 2013

Scientific Social Work Discussion (SSWD) kembali berdiskusi pada hari Kamis, 02 Mei 2013, pukul 16.30 wib. Dan juga hari ini bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, tetapi tema yang kita angkat dalam diskusi ini bukan mengenai pendidikan di Indonesia tetapi hari ini kita sharing tentang pengalaman dari mahasiswa STKS 2009 yang baru saja menyelesaikan Praktikum III. Adapun narasumber kita sangat luar biasa yaitu Abul Muhni Salam kelas IV-C dan Anisa Amalya Mukti kelas IV-D (salah satu dari mahasiswa berprestasi dari angkatan 2009). Sebenarnya kita juga mengundang beberapa mahasiswa angkatan 2009 untuk menjadi narasumber tetapi kebetulan yang bisa hadir hanya dua orang ini.

Kali ini sebenarnya ingin sharing tentang pengalaman dari praktikum tiga tetapi kami lebih memfokuskan untuk sharing tentang metode-metode yang sering digunakan dalam Praktikum III yaitu praktikum di masyarakat. Dengan pembahasan bagaimana kita menerapkan metode pengembangan masyarakat dalam praktikum III ini? Bagaimana kita dapat memodifikasi metode-metode ini sesuai dengan keadaan di lapangan, tanpa mengubah esensi dari metode-metode yang akan digunakan?.

Dari hasil sharing ini narasumber mengemukakan ada beberapa tehnik yang sering digunakan dalam Praktikum III ini, antara lain: Transect walk, Community meeting, TOP (Technology of Participation), ZOPP (Zeal Oriented Project Plano), dan FGD (Focus Group Discussion). Masih ada beberapa metode lagi selain metode lagi di atas tetapi mungkin yang sering dipakai oleh praktikan adalah metode tersebut.

Transect walk merupakan metode untuk mengasesemen masyarakat dan melakukan penelusuran ke masyarakat dengan tujuan untuk mengetahui kondisi yang ada di masyarakat. Ada dua poin yang harus diperhatikan dala hal ini yaitu melakukan pemetaan dan pendampingan oleh pihak lokal. Dimana dalam melakukan transect walk perlu adanya pihak lokal untuk mendampingi kia dalam melakukan asesmen atau pihak lokal ini sebagai key person yang dipercaya masyarakat, yang mengerti keadaan masyarakat setempat dan dapat diterima oleh mayasrakat tersebut, dan juga pihak lokal ini pun dapat membantu untuk melakukan pemetaan.

Continue reading

Categories: Publikasi Hasil Diskusi, Science Development | Tags: , , , , , , , , | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.