Opinion About Pengemis (Before Discussion)

Tilawah: Q.S Al Baqarah, 2:155-157

Bismillahirrohmaanirrohiim,,,

“Demi jiwaku yang berada di tanganNya sungguh seseorang yang mengambil tali di antara kalian kemudian dia gunakan untuk mengangkat kayu di atas punggungnya lebih baik baginya daripada ia mendatangi orang kemudian ia meminta-minta kepadanya yang terkadang ia diberi dan terkadang ia tidak diberi olehnya”. (HR. Al-Bukhari)

Tangan di atas (memberi dan menolong) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta-minta), mulailah orang yang menjadi tanggunganmu (keluarga dll) dan sebaik-baik shadaqah adalah yang di keluarkan dari kelebihan kekayaan (yang diperlukan oleh keluarga). (H.R : Al-Bukhary dan Ahmad)

Gelandangan dan Pengemis adalah salah satu PMKS yang ditetapkan oleh Kementerian Sosial. Satu hal yang menjadi perhatian bagi kita bersama adalah bahwa adanya gelandangan dan pengemis tidak pernah usai dan masih ada hingga detik ini. Adapun definisi dari keduanya adalah 1)Gelandangan: orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan kehidupan normal yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum serta mengganggu Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan dan 2)Pengemis: orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharap belas kasihan dari orang lain serta mengganggu ketertiban umum. Pada kesempatan kali ini, kita hanya kan membahas mengenai Pengemis, kasih ga ya?

Kita ketahui bersama, semenjak tahun 2005 silam, sebagian Pemda-pemda telah memberlakukan  Perda yang isinya adalah pelarangan terhadap Pengemis, dan bahkan orang yang memberikan sedekah kepada pengemis di tempat-tempat umum (perempatan, mall, pasar, dll) akan mendapatkan sanksi. Sebut saja Kota Bandung dengan Perda Kota Bandung No.03 tahun 2005, dan Perda Jakarta No.08 tahun 2007, dan Perda Madiun No.08 tahun 2010.

Apa Latar belakang penyebab munculnya Pengemis? Penyebabnya dapat berasal: 1)Kemiskinan; 2)Putus sekolah; 3)Kebijakan yang tidak pro masyarakat bawah; 4)Malas bekerja keras

Apa alasan logis agar tak memberi uang/sedekah kepada pengemis di tempat umum? Adapun alasan logisnya antara lain: 1)Menyebabkan ketergantungan pengemis untuk terus meminta-minta; 2)Terbukti dengan hanya memberi recehan di jalan sama sekali tak membantu mereka keluar dari permasalahan kemiskinan/minimnya akses pendidikan/kesehatan; 3)Banyak eksploitasi anak/orang cacat di jalan; 4)Pengemis alih menjadi profesi karena mudahnya mendapatkan pendapatan bahkan lebih dari UMR (di beberapa daerah tertentu); dan 5)Telah terbitnya Perda yang mengatur tentang pelarangan pemberian uang/sedekah kepada pengemis di jalanan (tempat umum)

Adakah dampak dari aturan yang telah dilembagakan tersebut? Dampak terbagi menjadi 3 macam hal: 1)Dampak langsung kepada Pengemis, menjadi kurangnya pendapatan yang diperoleh dan mengakibatkan mereka banyak yang resign dari jalan (tapi tidak tahu malah menjadi pencuri, pencopet, pelacur, bahkan perampok, atau bagaimana); 2)Dampak kepada Pemberi, dikenakan aturan pidana dengan denda hingga kurungan; dan 3)Dampak pada masyarakat: Suasana menjadi lebih nyaman dan tenteram

Bagaimana sikap seorang Pekerja Sosial terhadap pengemis di jalanan (tempat umum) Seorang pekerja sosial yang baik itu tidak melulu memandang satu persoalan hanya dari sudut pandang problem /yang kurang pada si penyandang masalah tersebut, namun melainkan juga memandang dari sisi strength untuk dijadikan sistem sumber dalam diri pribadi dalam rangka membebaskan diri dari keterbatasan. Maka, sikap seorang Peksos juga tidak lantas iba terhadap mereka, namun memberikan alternatif-alternatif sumber yang dapat dimanfaatkan guna tujuan pemberdayaan.Bentuk pemberdayaannya bagaimana?

Selain itu Pekerja Sosial juga seharusnya mampu mendorong kebijakan untuk lebih pro kepada masyarakat miskin ini

Bagaimana solusi praktis dalam upaya penanganan pengemis?

Beberapa solusi yang ditawarkan yaitu: 1)Kampanyekan Gerakan Anti Memberi Pengemis di tempat umum dalam bentuk pamphlet, poster, leaflet, flyer, stiker, dll; 2)Bantu Pemda (Dinas Sosial) untuk merumuskan kebijakan/bantuan yang tepat bagi Pengemis (tak hanya melulu diancam dengan hukuman, karena banyak yang melanggar aturan hanya karena perut lapar); 3)Asesmen kebutuhan Pengemis untuk dihubungkan dengan berbagai sistem sumber yang dapat diakses (kesehatan, pendidikan, pelatihan kerja, penghasilan, dll); 4)Salurkan donasi infak Anda kepada lembaga-lembaga yang kredibel sehingga penyaluran uangnya akan tepat pada sasaran, dan tentu saja, Anda secara nyata telah membantu negara untuk mengentaskan kemiskinan.

Coba kita ingat bersama dalam UDD 1945 Pasal 34 Ayat 1: Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

Kesimpulan

  • Para pembahas dalam SSWD mengambil sikap tegas untuk TIDAK MEMBERIKAN uang/sedekah kepada para pengemis di tempat umum
  • Mengambil sikap proaktif untuk mengkampanyekan Gerakan Anti Memberi Pengemis Jalanan
  • Turun ke lapangan untuk asesmen  masalah, kebutuhan, dan hambatan Pengemis di jalanan

Original Opinion by Muhammad Joe Sekigawa on Jum’at pagi, 30 September 2011

Categories: Diskusi Panel, Social Phenomenon Response | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: