Kedudukan Pekerja Sosial dengan profesi lain yang serumpun

PUBLICATION

SCIENTIFIC SOCIAL WORK DISCUSSION

KEDUDUKAN PEKERJA SOSIAL DIBANDING PROFESI LAIN

SSWD Edisi #004, Tahun #I 07 Oktober 2011

Scientific Social Work Discussion (SSWD) kembali berdiskusi pada hari Jumat, 7 Oktober 2011. Tepat pukul 16.00 WIB diskusi diawali dengan pembacaan tilawah demi kelancaran jalannya diskusi sore hari ini. Tema diskusi kali ini mengenai perbedaan Pekerja Sosial dibandingkan beragam profesi sejenis lainnya seperti Psikolog, Psikiater, Terapis dan Konselor bahkan Dokter. Hal yang kedengarannya sederhana tetapi sebenarnya sangat bermakna bila ditelisik lebih jauh. Dimulai dengan pemaparan singkat mengenai penjelasan masing-masing profesi, diskusi pun berlangsung dengan seru. Kita ketahui bahwa seorang Pekerja Sosial melaksanakan tugas-tugasnya berdasarkan 3 hal yang harus dimilikinya antara lain: 1)body of knowledge, 2)body of skill, dan 3)body of values. Berpedoman kepada ketiga hal tersebut, hendaknya menjadi penting bagi kita sebagai seorang calon Pekerja Sosial untuk mengimplementasikannya dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan. Selain itu pula, fokus perhatian seorang Pekerja Sosial dalam praktek pertolongan pekerjaan sosial ditujukan untuk mengembalikan keberfungsian sosial klien. Seseorang yang berfungsi sosial memiliki pengertian sebagai berikut: 1)dapat memenuhi kebutuhannya, 2)dapat melaksanakan tugas sesuai dengan peranannya, dan 3)dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Dalam paparan awal, dijelaskan pula bahwa seorang Pekerja Sosial bergerak di ranah mikro (dengan membantu individu, keluarga, kelompok), mezzo (komunitas), dan juga makro (masyarakat, kebijakan, perencanaan). Di samping itu, Pekerja Sosial dapat berperan sebagai enabler, broker, mediator, fasilitator, peneliti dan lain sebagainya. Setelah menyimak dengan seksama pemaparan singkat mengenai Pekerja Sosial yang disampaikan salah seorang diantara anggota SSWD, selanjutnya kami mencoba untuk mengkerucutkan bahasan tema dalam tiga rumusan masalah yang penting untuk didiskusikan, yaitu:

  1. Adakah ranah pekerjaan dari seorang Pekerja Sosial yang tidak boleh dirambah oleh ranah profesi lain?
  2. Bagaimana sikap kita terhadap ilmu Pekerjaan Sosial yang juga memanfaatkan dan menggunakan ilmu Psikologi, Konseling, Terapi dan juga ilmu lainnya?
  3. Bagaimana membuat suatu konsepsi dalam memberikan batasan yang jelas antara Pekerja Sosial dengan profesi lain di dalam masyarakat?

Diskusi berlangsung seru dan terarah dengan argumen masing-masing anggota SSWD. Ada pendapat yang menyatakan bahwa Pekerja Sosial memandang sesuatu dari keluasan masalah klien sedangkan profesi lain seperti Psikologi memandangnya dengan menitikberatkan pada kedalaman masalah. Jika dimisalkan, dalam prakteknya seorang Psikolog lebih menilai permasalahan klien dengan sepenuhnya melihat apa yang terjadi pada diri klien sedangkan Pekerja Sosial akan menindaklanjuti proses pertolongannya dengan melihat permasalahan yang ada tidak hanya terfokus pada pribadi klien akan tetapi juga terhadap lingkungan sosial dimana klien berada. Berkaitan dengan pertanyaan nomor 1, hal ini menjadi kekhasan tersendiri bagi profesi Pekerjaan Sosial yang tidak dirambah oleh profesi lainnya. Selain itu pula, yang menjadi ciri tersendiri dalam ranah profesi Pekerjaan Sosial ialah dalam tujuannya mengembalikan keberfungsian sosial klien. Hal ini tidak kita temukan dalam ranah profesi lainnya. Contohnya, seorang Psikiater hanya berfokus untuk menyembuhkan kondisi kejiwaan yang terganggu pada pasiennya. Selanjutnya tidak ada metode tersendiri dalam profesi Psikiater untuk dapat mengembalikan keberfungsian sosial dalam lingkungan klien berada. Ini merupakan cakupan atau wilayah kerja seorang Pekerja Sosial.

Bersama bergulirnya waktu, kami terus mendiskusikan topik hari ini berharap mendapatkan kesimpulan terbaik. Terkait dengan pertanyaan kedua, sikap kita terhadap penggunaan sumber ilmu lain dalam proses pertolongan Pekerjaan Sosial hendaknya mengarah pada prinsip keterbukaan. Kita hendaknya tidak menutup diri terhadap sumber kajian ilmu lain selain ilmu Pekerjaan Sosial dengan tetap menyaring (filterisasi) informasi yang didapatkan. Hal ini akan memperkaya wahana keilmuan kita sebagai mahasiswa yang sedang menuntut ilmu Pekerjaan Sosial. Beberapa ilmu lain yang berkaitan dengan Pekerjaan Sosial dapat kita terapkan dalam prakteknya.

Di sela-sela diskusi, kami mendapatkan sedikit hambatan mengenai batasan real seorang Pekerja Sosial dengan profesi lainnya. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana caranya masyarakat menyadari masalah yang terjadi pada dirinya ternyata dapat diatasi oleh seorang Pekerja Sosial?. Pada akhirnya, kami mencoba mendiskusikannya kepada tiga orang dosen STKS yang kebetulan lewat. Beliau adalah Bu Susilawati, Bu Dwi Yuliani dan juga Bu Emilia Hambali. Dari penjelasan ketiganya, kami pun mendapat kesimpulan bahwa supaya praktek Pekerjaan Sosial dapat dianggap keberadaannya dalam masyarakat, semua harus dimulai dengan aksi nyata (the real action) dari Pekerja Sosial itu sendiri. Masyarakat tidak akan pernah mengenal profesi Pekerja Sosial jika dalam kondisi yang sebenarnya masih sangat minim praktek Pekerjaan Sosial. Tidak cukup dengan aksi nyata, dari lembaga resmi pun harus ada sertifikasi jelas yang melegalkan seorang Pekerja Sosial melakukan praktek Pekerjaan Sosial di masyarakat. Kedua hal ini bisa menjadi suatu metode untuk lebih mengenalkan kepada masyarakat akan pentingnya profesi Pekerja Sosial dalam memecahkan berbagai permasalahan sosial yang ada. Dengan ini pula, kita bersama dapat mengetahui batasan jelas antara profesi Pekerjaan Sosial dengan profesi lainnya.

Mari sinergikan hati untuk memaknai Pekerjaan Sosial tidak hanya sebagai profesi melainkan juga sebagai bentuk pengabdian kita terhadap bangsa tercinta. Semangat memanusiakan manusia! Salam semangat tak kunjung padam by SSWD Team Members ^_^

Peserta SSWD #4: Muhammad Joe Sekigawa (‘08), Abd Muhni Salam (‘09), Fetty Familda (‘10), Ima Ekasari (‘10), Anisa Amalya Mukti (‘09), Erna Dwi Susanti (‘09). Kami menunggu Partisipasimu Kawan. . . .!!!!

FILE PUBLIKASI SSWD #4 dapat DIDOWNLOAD dan DISEBARLUASKAN PUBLICATION #4 Peksos dibanding Profesi Lain

NB: Scientific Social  Work Discussion (SSWD) is an open discussion group for STKS’s students that has 2 focuses: 1)Science Development of Social Work and 2)Social Phenomenon Response. Will be held every Friday afternoon from 3.30 until 5.30 pm.

Hasil diskusi pada Jum’at sore, 70 Oktober 2011

===

===

Categories: Publikasi Hasil Diskusi, Science Development | Tags: , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Kedudukan Pekerja Sosial dengan profesi lain yang serumpun

  1. Reblogged this on .

  2. Pingback: Ketika Mahasiswa Bertolak Pendapat dengan Dosen* |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: