STKS dibanding Kampus Kesejahteraan Sosial lain serta Pengakuan Pekerja Sosial dan Sertifikasinya

P U B L I C A T I O N

SCIENTIFIC SOCIAL WORK DISCUSSION

“STKS dibanding Kampus Kesejahteraan Sosial lain serta Pengakuan Pekerja Sosial dan Sertifikasinya”

SSWD Edisi #015, Tahun #III 07 Maret 2013

SSWD Edisi 15 menjadi suatu diskusi yang sangat membanggakan. Dengan tema STKS DIBANDING UNIVERSITAS KESEJAHTERAAN SOSIAL LAIN SERTA PENGAKUAN PEKERJA SOSIAL DAN SERTIFIKASINYA, menjadi tema hangat dan kegiatan diskusi yang sangat aktif dengan banyak hadirnya kawan-kawan angkatan 2012. Melihat antusiasme mahasiswa angkatan 2012 tema di atas mendapatkan angin segar dari pemikiran-pemikiran baru yang tergolong angkatan muda.

STKS merupakan Perguruan Tinggi Kedinasan yang langsung dinaungi oleh Kementrian Sosial. Sebagai Sekolah tinggi yang menerapkan ilmu Terapan sebagai landasan dalam perkuliahan menjadikan praktik dan teori sebesar 60% praktik dan 40% teori. Dari segi mata kuliah, Lutfiana Nur Azizah mengatakan bahwa di STKS pemberian materi perkuliahan lebih terstruktur dan mendalam serta dalam pembawaan materi oleh dosen banyak menggunakan contoh praktik lapangan, role playing (bermain peran) dan partisipasi mahasiswa dalam membahas suatu kasus permasalahan sosial. Mahasiswa diajarkan sebuah seni keterampilan dalam berinteraksi dengan individu, kelompok dan masyarakat.

Peserta SSWD#15 STKS dibanding Kampus Lain

Ilmu pekerjaan sosial generalis terbagi atas tiga bidang. Yaitu case work (mikro), group work (Mezzo), dan CO/CD (Makro). Dalam bidang ilmu tersebut metode-metode yang digunakan juga sangat berbeda. Dari menganalisis suatu permasalahan, melakukan sistem pertolongan sampai pada sebuah Intervensi baik secara mikro, mezzo dan makro. Di kampus ini juga mengenal teknologi-tekonologi pekerjaan sosial. Di mana banyaknya tools assessment baik secara mikro (Ecomap, genogram, Body mapping dll), Mezzo (home visit, Life of tree, dll) dan Makro (TOP, MPA dan PRA) yang digunakan pekerja sosial dalam melakukan Asesmen.

STKS juga mengajarkan kepada mahasiswa beberapa terapi psikososial seperti Konseling, Self Help Group (kelompok bantu diri), Nourishment, bangku kosong, Hipno sistemik terapi, Visualisasi, terapi realita, dan proyeksi waktu. Dengan banyaknya materi tersebut sangat bisa dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para mahasiswa STKS untuk mengembangkan potensi diri di bidang akademik dan keterampilan.

Devianty  ’12 mengatakan, “ketika saya berdiskusi dengan salah satu teman saya mahasiswa UI jurusan Kesejahteraan Sosial bahwa mereka lebih banyak diajarkan mengenai kebijakan-kebijakan sosial dari pada suatu teknologi pekerjaan sosial. Padahal dari awal masuk bahwa output dari jurusannya adalah pekerja sosial”. Secara kurikulum mungkin saja berbeda. Sebab UI jurusan Kesejahteraan Sosial bukan suatu ilmu terapan tetapi  ilmu murni yang lulusannya nanti adalah S-1. Berbeda dengan STKS yang lulusannya merupakan D-IV. Kalo dapat dikaji hampir seluruh PTK di Indonesia merupakan perguaran tinggi yang bersifat ilmu terapan. Namun di STKS pun tidak hanya berbicara masalah teknologi dalam penerapan. Mahasiswa pun dibekali dengan pengetahuan kebijakan-kebijakan sosial dan publik.

Pada pertemuan student forum di Yogjakarta (ICSD 2012). Saya mendengar sendiri pengakuan dari salah satu mahasiswa UNPAD angkatan 2010 yang mengatakan “saya kira KS UNPAD sudah memberikan pengetahuan yang lebih dari kampus lain. Tapi saat berdiskusi dengan mahasiswa STKS kami merasa sangat tertinggal jauh dari segi pengetahuan”. Pernyataan ini menjadi hal kecil bahwa keunggulan STKS dalam memberikan pengetahuan jauh lebih baik dari kampus KS manapun di Indonesia (bukan maumenyombongkan diri. He…he…he…).

Peserta SSWD#15 STKS dibanding Kampus Lain 2

Keunggulan ini seharusnya dapat dipertahankan oleh seluruh civitas akademika STKS. Namun tidak hanya sampai di situ, seluruh civitas pun harus dapat mengembangkan baik keterampilan, kelimuan bahkan nilai (termasuk attitude) dari segi mahasiswa, dosen sampai kepada lembaga STKS. Ketika pengembangan tersebut dapat diimplementasikan, kami berharap bahwa STKS tidak hanya dapat menaikan akreditasinya kalo perlu STKS mendapatkan sertifikasi dari ISO agar pengakuan STKS sebagai Institusi perkuliahan mendapatkan nilai lebih di mata masyarakat.

Pembahasan pun berlanjut mengenai, ketika lulus dari STKS apakah kita diakui menjadi pekerja sosial ? bagaimana dengan sertifikasinya?

Secara defenisi pekerja sosial adalah Profesi yang memberikan pertolongan pelayanan sosial kepada individu, kelompok dan masyarakat dalam peningkatan keberfungsian sosial mereka dan membantu memecahkan masalah-masalah sosial mereka. Dari penjelasan diatas seorang pekerja sosial dapat dikatakan pekerja sosial jika memberikan pertolongan dengan etika profesi kepada indvidu, kelompok dan masyarakat. Pada dasarnya ketika lulus dari STKS kita dapat dikatakan sebagai pekerja sosial sebab dalam perkuliahan mahasiswa telah melaksanakan praktikum I sampai dengan III. Namun secara profesional mungkin belum sebab status profesional  dapat disandang ketika seseorang telah lulus dari suatu akademik, mempunyai kode etik dan pekerjaannya tersebut mendapatkan insentif.

Bagaimana dengan sertifikasi? Kami belum mengetahui betul mengenai syarat-syarat sertifikasi pekerjaan sosial. Namun beberapa dari penjelasan dosen bahwa, sertifikasi didapatkan setelah melewati target kerja dalam kegiatan pekerjaan sosial, dan terdapat tim sertifikasi yang akan menilai seseorng layak tidak mendapatkan sertifikat tersebut. Salah satu tim sertifikasi pekerja sosial merupakan dosen STKS yaitu Ibu DR. Didiet Widiowati, M.Si.

Dapat diambil kesimpulan bahwa, STKS yang merupakan almamater tercinta merupakan kampus yang patut untuk dibanggakan dari segi keilmuan. Semua pengetahuan yang ada tinggal bagaimana kita sebagai mahasiswa mencarinya. Jadilah mahasiswa yang aktif untuk mencari pengetahuan tersebut. Manfaatkanlah kampus STKS sebagai wadah Ilmu kalian. So, Keep Spirit for your dreams… ^_^

FILE PUBLIKASI SSWD#15 dapat DIDOWNLOAD dan DISEBARLUASKAN SSWD#15_07 Mar 13_STKS dibanding Kampus KS lainnya dan Sertifikasi Peksos

Peserta SSWD #15: Fadly Yulianto (’10), Lutfiana Nur Azizah (’10), Dyah Ayu (’11), Nella Kurnia Anggrahini (’12), Qanita Mi llatina Afifah (’12), Aldy Devianty (’12), Maha Athirah (’12), Nur Khamidah (’12), Erika Aritonang (’12), Alfrojems (’12).

Kami menunggu Partisipasimu Kawan. . . .!!!!

NB: Scientific Social  Work Discussion (SSWD) is an open discussion group for STKS’s students that has 2 focuses: 1)Science Development of Social Work and 2)Social Phenomenon Response. Will be held every Thursday afternoon from 4.00pm until 5.45pm.

Hasil diskusi pada Kamis sore, 07 Maret 2013

Categories: Publikasi Hasil Diskusi, Science Development | Tags: , , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “STKS dibanding Kampus Kesejahteraan Sosial lain serta Pengakuan Pekerja Sosial dan Sertifikasinya

  1. Reblogged this on .

  2. Galuh

    kak maaf saya mau bertanya tentang STKS Bandung ini. apa gelar yg didapat setelah lulus dari STKS? dan STKS ini programnya S1/D3/D4? terimakasih kak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: